Datang Akan pergi, Mengerti akan Tinggal



Sejatinya dari dulu saya sangat menginginkan banyak hal. Itu pula merupakan dasar kebutuhan seorang manusia. Saya punya beberapa preferensi yang mungkin agak berbeda dengan pemikiran kebanyakan orang.

Selayaknya manusia biasa, saya merupakan seseorang yang tidak mudah bersyukur dan selalu berpikiran negatif. Suatu hari saya sampai di titik rendah saat seluruh orang hanya bersimpati dan tak berempati. Tak bisa saya menyalahkan siapapun, karena setiap orang punya masalahnya masing-masing.

Semua yang terjadi pada saya harus bisa dilewati oleh saya sendiri. Dalam keadaan jatuh saya mulai bisa melihat dengan jelas mana yang baik mana yang tidak. Merefleksikan diri dan berusaha untuk bersyukur dengan tidak memikirkan sebuah kebenaran atau pun kesalahan terhadap seseorang. Itu merupakan urusan pribadi seseorang, dan saya bukan siapa siapa.

Feedback pasti sangat diharapkan oleh seorang manusia biasa. Sejauh ini saya berusha yang terbaik untuk tetap menjadi manusia normal yang selalu bisa diterima di mana pun saya berada. Setiap ada seseorang yang berperilaku baik, saya akan berusaha membalas kebaikan orang tersebut.

Oleh karena itu setiap orang yang berempati. Saya akan coba balas semampu saya, sebisa saya, sekuat saya. Ditambah mereka yang membantu tak pernah meminta kembali kasih dari saya. Dalam tahap level ini saya bisa tahu yang mana akan tetap tinggal dan mana yang akan saya pilih untuk berjalan lebih jauh.

Mengalami semua fase keterpurukan di usia 24 tahun saya rasa hidup harus disyukuri tanpa pernah mengeluh. Saya beruntung dengan adanya orang yang siap sedia untuk saya. Saya juga beruntung memiliki support system yang baik dan mendukung saya Apa Adanya Saya. 

Sekalipun saya salah, mereka bertanya kepada saya. Setia menunggu jawaban dari saya. Dan tetap mendukung kemana arah dan tujuan saya kelak. Maka dari itu, dalam titik ini saya mencoba untuk mengerti. Bahwa yang tinggal adalah yang berharga, dan yang pergi tak perlu kamu hiraukan.



Komentar