Saat Kamu Bertanya "Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada" Masihkah Kau Sujud Kepadanya?



Hai, kali ini saya mau sedikit mencurahkan pandangan saya mengebai Agnostik. Topik ini sangatlah sensitif, walaupun saat ini saya tinggal di negara majemuk. Saya sangat tertarik membahas tema ini karena memiliki alasan besar. Nyatanya saat ini banyak sekali orang yang "berkedok" demi sebuah kepentingan.

Sebetulnya, masalah spiritual harus dikembalikan kepada diri masing-masing dan itu hak masing-masing setiap individu. Masalah ini pun sejatinya bukan urusan saya namun akan sangat fatal ketika para penganut paham "berkedok" sampai menggiring opini orang lain untuk ikut menjadi seperti mereka.

Sudah dua tahun terakhir banyak sekali  aksi dan penuntutan suatu permasalahan general berkedok agama. Penuntutan ini sesungguhnya tidak bisa dikaji dari segi baik dan buruknya. Namun, harus ditelaah lebih jauh kenapa banyak orang berbondong-bondong melukai bahkan tidak menghargai orang lain.

Saya sebagai kaum mayoritas yang mungkin kurang ilmu agama paham betul logika "menjadi manusia" yang memiliki paham "Kamu jangan sampai jahat atau menjatuhkan orang lain". Itu adalah salah satu paham narasumber channel Menjadi Manusia di Youtube  yang memilih untuk menjadi agnostik.

Saya tidak akan mengkaji lebih jauh  mengenai pilihanya menjadi agnostik bahkan sebelumnya atheis. Melainkan, komentar warga net yang sangat menyayangkan dan mengatakan "Jangan lelah mencari".

Jika kamu mengatakan jangan lelah mencari, kita harus mencari dan berguru dari siapa? Jika apa yang terlihat saja, yang dielu-elukan, yang disanjung-sanjung berlaku tidak adil terhadap orang lain, melanggar hak asasi manusia, dan berlaku tak selayaknya guru.

Sejujurnya saya tidak mencari pembenaran. Hingga saat ini saya masih mengimani, namun saya tidak akan pernah mendiskriminasi atau pun sok mengajari, apalagi menghina orang lain yg berbeda dan memutuskan untuk 'muak' dengan apa yang mereka anut. Banyak orang berkata, "Sebagai sesama lu harus mengingatkan kalau nggak lu dosa". Baik mari dimulai dengan saling mengingatkan, namun setelah kita mengingatkan dan berusaha semaksimal mungkin namun ia tidak menggubris, bukan berarti saya bisa bertindak sebagai juri membenarkan atau menyalahkan. Tuhan punya kuasa dan saya rasa dia yang berhak memutuskan mana benar atau salah.

Mungkin saya terlihat arogan, tapi itulah saya dan saya seorang beragama yang menjalani perintahnya menjauhi larangannya. Namun, saya akan memilihnya, melihatnya lebih dekat dengan kehidupan saya.

Jika sebuah rules tidak masuk dalam logika saya, pastinya saya tidak peduli itu salah benar, dan saya pakai dalil saya yakni "Berbuat baik dan Jangan Pernah Berbuat Jahat dan Merugikan Orang Lain".

Beruntungnya saya hanyalah manusia biasanya yang bukan manusia terkenal sehingga harus menjaga sikap walaupun itu berbanding terbalik dengan sikap diri kita. Its me, and I Love my self


Komentar