Its Good Enough or You Dumb Like A Sh*T

Banyak orang bilang quarter life crisis mungkin akan terasa sangat sulit untuk dilewati. Bagiku yang akan menginjak usia 25 tahun di bulan depan mungkin hati merasa sangat berdebar. Tanggung jawab, beban, dan banyaknya hal yang perlu dipikirkan matang-matang langsung saja terbayang-bayang di mimpi tidur siangku hari ini.

Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki masyarakat yang pola pikirnya sedikit lebih jongkok. Entah mungkin karena faktor agama, budaya, atau kebiasaan yang masih menjadi standart dalam menilai keberhasilan seseorang.

Usia 25 tahun kerap kali dijadikan patokan oleh banyak orang sebagai usia matang untuk melakukan banyak hal. 

JIKA WANITA
"Usia patokan lo buat kawin sih 25 tahun, gimana gimana? Udah pas kan? Nanti biar jarak sama anak nggak jauh loh"

"Lu udah 25 tahun kan, kenapa sih gak buru-buru nyari jodoh? Nanti keburu tua loh"

"Gilaaaa kemana aja lu selama ini, liat gue kan udah nimang-nimang anak di IG, anak gue udah mau dua tahun? Sedangkan lu baru lulus kuliah?"


Kadang pernyataan-pernyataan itu membuat alam bawah sadar bertanya "Apa mereka hidup cukup baik, sehingga bisa memberikan komentar seperti itu untuk orang yang bahkan mereka enggak kenal-kenal amat?" 

Jika KAMU  dipaksa untuk melakukan apa yang tidak kamu sukai dan tidak memberontak sama sekali pasti mentalmu agak GILAAAAK.

Sama kayak akuuu :)

Tepat H-2 minggu menuju usia kramat aku mulai melihat kebelakang apa saja yang telah aku lakukan seumur hidupku. Awalnya di dua jam pertama aku bangun, rasa-rasanya kumulai ingin menchecklist semua wishlist hidup, tiba-tiba mata merah dan dada sesak penuh kemarahan, karena kalau dilihat dan dirasa tak ada satupun setlist goal aku terpenuhi selama ini.

Namun jika ditarik mundur, ternyata semua hal yang terjadi selama hidup inipun memang sedikit membuat pikiranku jadi gila.

1. Walaupun keluarga sedang mengalami penurunan ekonomi
    "Ya, tadinya kami ada transportasi umum sebagai moda terdepan penghasilan, sekarang bokap mau enggak mau jadi abang ojol karena kebijakan pemerintah yang sulit kami kekang"

2. Sebagai anak tertua gue harus mengemban banyak tanggung jawab mulai dari
"Biaya kuliah ekstensi yang mahal, atau sekolah adek yang masuk swasta"

3. Secara moral gue juga harus jadi contoh untuk keluarga, tapi saat ini gue malah jadi yang paling enggak tau diuntung.
"Pacaran beda agama udah 10 tahun, dan berniat kawin sama doi maksimal 2 tahun lagi"

4. Kerja di tempat yang memforsir tenaga lu bukan dengan upah yang seimbang :)
"Even sakit they care, but dont wanna know about my deadline :)"

5. Enggak bisa punya teman yang suka menjudge gue seenaknya alias (gue emang baperan)
"Karena emang gue gak suka hidup gue dijadiin bahan bercandaan, atau pilihan gue diolok-olok buat jadi bahan dan cacian mereka"

6. GUE SALAH, BUT PLEASE DO RESPECT ME MOREEEE


Kalau ada yang bilang hidup lu belum ada apa-apanya. Ya mungkin iya :) Tapi inget gue juga punya limit dalam menjalani hari. Sampai hari ini gue juga masih gali lobang tutup lobang buat bayar biaya kuliah gue. Di saat temen-temen w pada gila gue cuma bisa dengerin mereka ajaa.. punya utang sama cowok gue sampe berjuta-juta.. dimarahin sama atasan karena gak tanggung jawab ya yaudahhh :)

TERLALU PASRAH makanya RASANYA PALA MAU MELEDAK

Kadang gue mau ngeluh tapi nggak mungkin ngeluh sama nyokap dia bebannya lebih banyak karena harus bangun jam 2 pagi setiap hari untuk jualan sayur di depan rumah gue yang masuk gang sempit. Kadang mau ngobrol sama bokap, dia juga cape pergi pagi pulang malem di usia yang udah 54 tahun dan harus berkelana di DEPOK yang macet ini karena profesinya sebagaipahlawan jaket ijo. Atau kalau mau cerita sama temen-temen gueee, gue yakin mereka punya cerita dan masalahnya sendiri, dan gue yakin yang keluar dari mulut mereka adalah yaudah "sabar" atau enggak "ngejudge". SIMPLE. Makanya sampai saat ini gue masih mikir, apa gue yang salah mengambil keputusan untuk menjalani hidup yaaa? Karena sampai sejauh ini gue kok nggak bisa merasa senang menjalani hidup (?)


Tapi kalau dilihat lebih jauh dan lebih tenang, menjawab keluh kesah gue cuma gue sendiri. TERIMA, dan JALANI, IKHLAS.  Gue cukup jalani semampu dan seterbaik yang bisa gue kerjain, kalau nggak mampu yaaa yaudah. konsekuensinya kalau lari dari masalah akan seperti ini lagi, kalau dijalanin ya lo bakal berdarah-darah dan capeeek. SIMPLE.

Namun, dibalik semua curhatan dan keluh kesah yang gue syukuri hari ini adalah, "Gue bisa membulatkan hati, dan berani membenarkan diri gue, 'Kalau gue juga manusia yang punya limit' gapapa salah yang penting tanggung jawab, gapapa nggak sama dengan orang lain yang penting bisa ikhlas dan bahagia, gapapa ngeluh asal enggak berlarut-larut'"

Gue juga gak mungkin bisa sampai dititik yang jauh ini kalsu bukan karena beberapa orang yang bisa jadi support system gue. Kuucapkan terima kasih kepada Satriyoku :) (walaupun kami berbeda tapi dia orang yang selalu ada buat gue 24 jam, selalu nolong kapanpun gue butuh, dan selalu sayang bagaimanapun keadaan gue)

Nanda Fitri (Kaka ketemu gede saat gue baru lulus D3 yang selalu bisa bijak menanggapi masalah gue denan bijak dan enggak suka menjudge gue.

dan yang pasti walaupun gue keliatan laknat kayak gini gue masih sangat teramat percaya sama kekuatan Allah dan berkahnya untuk gue menjalani hidup selama ini :)

"Terimakasih atas 25 tahun yang berharga dari-Mu semoga selalu bisa dapat manfaat dan syafaat. Semoga gue selalu diberikan kesempatan-kesempatan keren untuk bisa merasa bahagia dan tau caranya bekerja dalam hidup" AMIN :))

Semangat Cha, 25 cuma setahun kok!
Photo by Jonathan Borba on Unsplash

Komentar